Selasa, 24 Juli 2012

Berharap Berkah Puasa dari Kulit Bedug ...

Tak lengkap rasanya Ramadan tidak mendengar bunyi bedug. Bunyi bedug bertalu-talu menandakan umat mulim agar segera datang ke masjid untuk melaksanakan ibadah. Suara bedug juga menandakan datang waktu berbuka puasa maupun sahur.
Demikian pula bunyi bedug yang ditabuh sepanjang malam takbiran, menandakan bakal datangnya Idul Fitri. Bunyi bedug juga manambah suasana masjid menjadi semakin meriah, apalagi banyuak anak-anak yang berebutan ingin menikmati sensasi menabuh bedug. Memang bedug sudah identik dengan masjid, sehingga kurang lengkap rasanya jika sebuah masjid tidak memiliki bedug.
Tidak heran pada bulan Puasa ini mulai menjamur pedagang bedug, khususnya kulit bedug. Di Kota Ciamis setidaknya terdapat tiga lokasi yaitu di Jalan Kawali, Jalan RE Martadinata, sekitar bekas terminal dan jalan raya menuju Kota Banjar. Yang menarik, ternyata seluruh pedagang kujlit bedug tersebut masih memiliki ikatan saudara.
Seorang pedagang bedug di bekas terminal bus Ciamis, di Jalan RE Martadinata, Haer (38) ketika ditemui di tempat jualannya, mengaku bersyukur sejak beberapa hari sebelum datangnya bulan Puasa hingga saat ini hampir setiap hari ada pembeli. Rata-rata per hari barang daganganya laku satu - tiga lembar kulit bedug, khusus kulit sapi.
"Sejak menjelang puasa hingga sekarang hampir tiap hari ada yang membeli (kulit bedug). Saya bersyukur ini merupakan berkah bagi saya dalam bulan puasa," ungkapnya.
Didampingi Ade, ia menambahakan kulit bedug yang dijual sebagian besar berukuran diameter 80 sentimeter. Kulit tersebut pas bedug yang memakai drum bekas oli atau drum aspal. Meski demikian, ia juga siap melayani kulit bedug untuk ukuran yang lebih besar, semisal diameter 130 sentimeter. Kulit bedug dengan diameter 80 senitimeter dijual Rp 180.000 sedangan untuk ukuran semakin besar harganya lebih mahal hingga mencapai Rp 600.000 per lembar.
Haer yang mengaku berjualan kulit bedug, meneruskan usaha ibunya, Hj. Unama. Dia mengatakan pembeli kulit bedug tidak hanya datang dari Ciamis akan tetapi juga dari Kota Banjar dan sekitarnya. Bahan baku kulit sapi dibeli dari bandar sapi H. Roni warga Limus Nunggal, Ciamis.
"Seperti biasa, menjelang puasa saya beli kulit lebih banyak. Saat ini paling tidak ada persediaan sekitar 100 lembar. Sekarang stok masih ada, sudah rutin awal puasa tidak begitu banyak, tetapi nanti pada pertengahan Ramadhan pembeli samakin banyak," kata Haer yang juga berjualan tahu kupat.
Untuk memproses kulit sapi mentah menjadi bahan kulit bedug, dia mengungkapkan sedikitnya membutuhkan waktu selama satu minggu, dengan syarat cuaca panas. Kulit mentah yang baru di beli, ia menjelaskan, langsung dibersihkan dari sisa-sisa daging yang masih menempel. Selanjutnya ditaburi garam, untuk menghindari adanya belatung serta mengurangi bau.
Proses berikutnya, kulit yang sudah terbebas dari daging itu kemudian dijelmur di bawah terik matahari. Untuk menjemurnya juga harus dalam kondisi terhampar, sehingga kulit tidak menggulung ketika kena panas.
"Jika cuaca panas paling tidak lima hari sudah kering. Tetapi kalau mendung waktunya lebih lama lagi. Selanjutnya dibentuk sesuai dengan ukuran. Mulai dari ukuran kecil untuk kendang hingga besar untuk bedug dari kayu atau drum bekas," tuturnya.
Lebih lanjut Haer mengatakan berdasarkan pengalaman daya tahan kulit bedug yang memakai kulit sapi, rata-rata mampu bertahan selama tiga - empat tahun. Namun, semakin sering dipukul, maka daya tahannya juga berkurang. Sedangkan yang memakai bahan kulit kerbau, daya tahannya lebih lama. Persoalannya di tatar galuh Ciamis nyaris sudah tidak ada kerbau.
"Memang menurut yang beli, kadang ada orang yang usil merusak bedug, sehingga hampir setahun sekali ganti kulit. Mungkin karena kesal hingga merusak bedug. Yang pasti bulan puasa ini membawa berkah bagi penjual kulit bedug," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar