Investasi
dapat diartikan sebagai suatu komitmen untuk menempatkan dana sejumlah
tertentu atas suatu aset/instrumen investasi tertentu dalam jangka waktu
tertentu dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan/nilai yang lebih
tinggi.
Jenis Investasi
Dari jenis atau bentuk aset yang diinvestasikan, investasi terdiri dari :
· Riil Investment
Yaitu menginvestasikan sejumlah dana pada aset riil (aset berwujud), seperti tanah, emas, mesin atau bangunan.
· Financial Investment
Yaitu menginvestasikan sejumlah dana pada aset finansial, seperti deposito, saham, obligasi, dan surat berharga lainnya.
Keuntungan dan Risiko Investasi (Financial Investment)
Keuntungan Investasi :
- · Capital Gain
yakni keuntungan dari selisih nilai beli dengan nilai jual saham/instrumen financial investment lain yang lebih besar dari nilai belinya.
- · Dividen
Risiko Investasi :
- · Capital Loss
yakni kerugian dari selisih nilai beli dengan nilai jual saham/instrumen financial investment lain yang lebih rendah dari nilai belinya.
- · Risiko Likuidasi
- · Risiko gagal bayar
Yakni
risiko dimana investor tidak dapat memperoleh pembayaran dana yang
dijanjikan oleh penerbit pada saat produk investasi jatuh tempo.
Time Value of Money (Konsep Uang Menurut Waktu)
Nilai uang berubah tergantung pada waktu dimana kita memiliki kendali atas uang tersebut dan menginvestasikannya.
Waktu
merupakan elemen penting dalam menentukan nilai uang. Nilai/’daya beli’
uang Rp 100.000 saat ini akan berbeda dengan masa yang akan datang.
Perubahan ini terjadi karena adanya inflasi.
Inflasi merupakan istilah ekonomi untuk kenaikan harga secara menyeluruh.
Misalkan
angka inflasi rata-rata 5% pertahun, berarti nilai barang rata-rata
naik sebanyak 5%, sehingga ‘daya beli’ atau nilai uang Rp 100.000
sekarang akan berkurang 5% menjadi Rp 95.000 satu tahun berikutnya.
Investasi vs. Spekulasi
Ketika
berinvestasi, kita menempatkan sebagian simpanan pada instrumen yang
mengandung resiko untuk mengharapkan apresiasi nilai dalam jangka
panjang.
Para pelaku investasi inilah yang disebut ‘investor’, mereka bertransaksi untuk jangka panjang dan keputusannya (biasanya) berbasis pada analisis fundamental perusahaan.
Sementara
ketika spekulasi, menjanjikan keuntungan dalam jangka pendek yang
sangat jarang menjadi kenyataan dan tidak pernah memberikan manfaat
dalam jangka panjang.
Para pelaku spekulasi ini disebut ‘spekulan’, mereka bertransaksi untuk jangka pendek dan utamanya berbasis pada momen dan gerakan harga.
Sebagian
spekulan bertransaksi tanpa didukung analisis fundamental sedikitpun.
Spekulan dapat meraih untung bila trend harga bergerak naik maupun
turun; misalnya dengan short selling, yaitu jual dulu beli kemudian. Karena itu spekulan sering disamakan dengan penjudi.
Savings vs Investment
Savings (menabung) dapat dikategorikan sebagai suatu bentuk investasi jangka pendek yang bertujuan menyimpan dana.
Sarana tabungan dapat berupa:
Savings (menabung) dapat dikategorikan sebagai suatu bentuk investasi jangka pendek yang bertujuan menyimpan dana.
Sarana tabungan dapat berupa:
· Giro
Memiliki bunga terendah, biasanya dipakai untuk mempermudah transaksi pembayaran.
· Tabungan
Memberikan bunga diatas jasa giro, dan bisa diambil setiap saat.
· Deposito
Memiliki bunga lebih tinggi dari tabungan, tapi harus disimpan untuk jangka waktu tertentu.
· Reksadana pasar uang
Merupakan
reksadana yang berinvestasi pada pasar uang seperti deposito, SBI dan
obligasi jangka pendek. Tingkat pengembaliannya lebih tinggi dari jasa
giro tapi lebih rendah dari deposito, dan bisa dicairkan setiap saat.
Dilihat dari tujuannya, savings umumnya hanya bertujuan
menyimpan dana saja, tidak ada rencana jangka panjang untuk menghasilkan
nilai lebih dari dana yang disimpan tersebut. Karena itulah ada
sebagian pihak yang berpendapat bahwa savings berbeda dengan
berinvestasi.
Investasi seharusnya merupakan rencana jangka
panjang yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan/kekayaan
investor. Rencana tersebut kemudian akan menentukan prosedur investasi
seperti apa yang akan dijalankan, dan apa sarana investasi yang akan
dipergunakan untuk menuju keberhasilan rencana tersebut.
Risk vs Return
Setelah
menentukan rencana investasi, investor akan menargetkan berapa return
yang ingin dicapainya, semakin tinggi return yang ingin dicapai, maka
semakin besar pula resiko yang melekat pada prosedur dan sarana
investasi yang dipilih nya (high risk high return).
Ketika
seorang investor memutuskan untuk membeli suatu sarana investasi,
misalnya obligasi suatu perusahaan yang memiliki bunga yang cukup
tinggi, ia akan memperoleh pendapatan lebih dari bunga yang tinggi
tersebut (high return). Tetapi ada risiko yang melekat dari obligasi tersebut yakni ketidakpastian akan pelunasan hutang obligasi yang dipilihnya (high risk). Bunga yang tinggi tersebut biasanya diberikan oleh penerbit obligasi untuk menarik minat para investor.
Untuk
memperkecil risiko yang mungkin terjadi, biasanya para investor
melakukan diversifikasi investasi dengan menyusun portofolio investasi,
sesuai dengan prinsip “don’t put all yuor eggs in one basket”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar